
Ia wanita muda, umurnya baru sekitar 30 menjelang 40 tahun. Diumur yang tergolong muda ini, ia jaga aku dengan dekap hangat penuh kasih. Tiada pamrih yang ia harap, semua tulus ia beri.
Aku, aku mungkin atau memang anak yang tidak jarang bantah orangtua. Entah berapa lapis neraka yang akan aku lewati kelak. Tetapi apa ibu pernah bantah mimpiku? Tidak. Ia dukung aku selalu.
Ya aku selalu terlihat buruk dimatanya. Beberapa kesalahan telah aku lakukan, dan ia selalu memaksaku untuk meminta maaf. Ia pun memiliki kesalahan, namun ia tidak pernah minta maaf. Tapi aku tau sebenarnya ia meminta maaf dengan cara yang lain, menjadikan kesalahannya sebagai pelajaran baru untukku.
Bertaruh nyawa untuk nyawaku, berbagi tenaga untuk hidupkuku, memberi kasih dalam kalbuku, dan mengukir senyum untuk bahagiaku. Ia beri semua yang terbaik, aku balas ia seadanya. Tidak adil memang. Tapi pernah ia mengeluh? Tentu iya, tapi pernah ia membalas? Tidak.
Aku difonis ADD (Attention-Deficit Disorder) dan baru diketahui ketika akan menjalani UAN SMP. Mungkin jika aku menjadi ibu dan anakku difonis seperti itu, aku akan hanya menangis dan mencoba terima keadaan. Tapi berbeda dengan ibuku. Ia malahan membawaku kesana kemari hanya untuk menyembuhkan aku. Hingga akhirnya aku dapat selesaikan UAN SMP ku dengan baik dan menghasilkan nilai yang cukup memuaskan.
Memang terdengar klise, tapi tugasnya memang tiada akhir.
Sangat melelahkan pasti menjadi dirinya. Tidak ada bayaran pasti untuk dirinya, hanya pahala yang akan ia terima nanti diakhir jaman.
Sejuta pelajaran ia beri untuk bekalku, setumpuk cinta ia sentuhkan untuk manjakan aku, dan segudang larangan ia dirikan untuk buatku lebih baik.
Aku adalah anugerahnya yang selalu ia jaga, sedang ia adalah malaikat terindah yang menjagaku.
Memang hanya kata ’terimakasih’ dan ’maaf’ yang dapat terlontar dari bibir penuh dosa ini. Terimakasih untuk segala kebahagiaan yang telah kau beri dan maaf atas segala kekecewaan yang aku beri
Love you momy


No comments:
Post a Comment