Sunday, June 13, 2010

x4

Setiap pukul 04.30, mama selalu bangunkan aku untuk mandi kemudian sholat lalu mengantarnya untuk bekerja. Mama adalah panggilanku kepada nenek yang telah melahirkan ibuku yang tinggal bersebelahan dengan rumahku. Dia masih terlalu muda jika aku panggil dengan sebutan 'nenek', maka aku panggil dia 'mama'.

Setelah aku menyelesaikan mandi, sholat, dan mengantar mama, kini saarnya bersiap untuk sekolah karena ini sudah pukul 05.00. Ku susun buku pelajaran, binder, tempat pensil, dompet, pelembab muka, handyclean, lipgloss, parfume, headset, ipod, dan tidak lupa selampe. Itulah yang selalu aku susun didalam tas leopard usangku.

Tepat pukul 05.30 Bang Cecep(ojek langganan) datang siap menempuh kemacetan untuk menghantarku sekolah. Segala cara ia lakukan dengan baik agar aku tidak telat sampai sekolahku yang terbilang lumayan jauh dari rumah.

Aku biasa sampai disekolah sekitar pukul 06.00 disaat belum banyak murid yang datang. Banyak yang mengira jika datang kesekolah pada jam sepagi itu pasti merekalah yang akan menjadi penghuni kelas pertama, tetapi tidak dengan aku. Sesampainya aku dikelas, ternyata disana sudah ada Suci, Fitri, Dian, dan Widya yang sedang sibuk bersihkan kelas meski hari itu bukan jadwal mereka untuk piket. Aku datang dengan muka setengah mengantuk langsung duduk ditempat lalu nge-tek tempat untuk Soniya-Hajar serta Enab-Nada.

Tidak lama dari aku datang biasanya Qori, Fadilah, Nung, Ade, Bunga, Muti, Syifa I.(atau Pai), Enab, Ais, dan Soniya datang bergantian. Setelah mereka menduduki tempat masing masing, biasanya Ais yang duduk bersebelahan denganku langsung berlari menuju kamar mandi yang terletak tidak jauh dari kelas untuk membuang sisa makanan semalam berupa kotoran yang menjijikan. Kalau Soniya pasti menjerit "VANIA ADE ENAB BUNGA, LO HARUS TAU YA..." dia memang paling hobi bercerita saat pagi  hari dengan suara nyaringnya itu, dan kami mendengarkan dengan setia sampai ikut larut dalam ceritanya itu sedang yang lain sibuk menyalin PR atau contekan.

Pukul 06.30 tepat Bu Nina(guru matematika) berlari seakan tidak ingin muridnya merasa kerugian jika ia telat masuk. Muka mungil yang selalu diselimuti kerudung tipis, lipstick merah cerah nan tebal serta kaca mata tebal hiasi paras ayu sang guru, tidak lupa laptop besar dan setumpuk buku yang selalu ia bawa selalu hiasi pagi kelas setiap hari senin dan selasa.

Setelah beberapa jam kita melaksanakan KBM, biasanya Affan, Getar, Kiki, Ketir, dan Tanti masuk dengan muka kelelahan karena telah melalukan operasi semut yang dikarenakan mereka telat. Dengan penuh senyum dan sedikit nasihat penuh cinta Bu Nina beri kepada mereka agar tidak mengulanginya lagi(padahal itu selalu rutin terjadi).

Muti, Amel, Diany, Qori, Farah, Anne, Nung, Fadilah, Fitri dan Panji yang paling setia mendengarkan ocehan berharga Bu Nina sedang yang lain memiliki urusan masing masing. Aku, Ais, Soniya, Ade, Enab, dan Bunga biasanya lebih memilih untuk berbincang tentang sesuatu yang lebih menarik dibandingkan dengan ’logaritma’ atau ’sin 30’ atau apalah itu lainnya. Putri, Suci, Widya, Maesha, kiki, Dian, Nada, Syifa F.(atau sipau), Pai, dan Tanti biasanya sibuk dengan ponsel mereka masing masing. Salim, Ketir, Hafizh, Faisal, Ibar, Nuril, Getar, dan Affan sibuk dengan guyonan mereka bersama. Sedang Hajar lebih memilih untuk duduk sendiri dan entah apa yang selalu ia tulis.

Keunikan lain yang ada dikelasku ini selalu terjadi dihari selasa. Pelajar kedua adalah kesenian yang diajar oleh Pak Tomi, tapi tahu apa yang kita lakukan? Kita turun kekantin bersama lalu memilih jajanan apa yang kita mau lalu memakannya bersama dikelas dan jika makanan itu tidak habis, hanya dengan meneriakan nama ”HAFIZH” atau ”FAISAL” maka makanan tersebut akan habis seketika. Lalu pelajarannya? Santai sajalah, Pak Tomi sangat jarang mengajar dikelasku. Sekalinya ia mengajar, pasti ada saja hinaan baru untuk kelasku ini.

Setelah pelajaran kesenian adalah waktunya istirahat. Karena kita sudah cukup puas melahap makanan dijam pelajaran kesenian, kini saatnya bersua dengan teman terkasih. Mulai dari Enab dan Ade yang tunjukan tarian barunya didepan kelas. Sedang aku, Ais, dan Soniya yang dendangkan lagu yang baru kita ketahui. Lalu teman yang lain dengan tawa penuh bahagia mereka serukan bersama.

Ais yang telah diketahui oleh semua teman sekelas bahwa ia miliki Januar, kekasihnya dari 16 Mei 2008 itu. Tidak jarang ia menangis karena ulah kekasihnya yang kurang menyenangkan tetapi tidak jarang pula ia tertawa lepas kegirangan karena ulah kekasihnya yang sangat romantis. Kami hanya bisa memberi dukungan moral untuk Ais~teman terkasih kami. Sedang Soniya miliki Anggit, kekasihnya dari 01 januari 2009. Jika Ais bisa menangis, maka berbeda dengan Soniya yang biasa memaki jika miliki masalah dengan kekasihnya. Tetapi jika kekasihnya membuat hatinya senang, maka sejuta senyuman manis ia beri untuk semua teman sekelas. Jika Soniya sedang memaki, tidak seorangpun berani melawan untuk mendekatinya. Namun jika ia sedang tersenyum manis penuh arti, semua orang membalas senyumnya dengan ramah dan kasih.

Jika sedang pelajaran fisika, Faisal lah yang menjadi bahan guyonan Pak Suharto. Kalau pelajaran bahasa Arab, biasanya Enab yang berani menggoda Pak Hafis dengan rayu manja ala kaula muda saat ini. Saat pelajaran bahasa Indonesia, biarkan Affan, Soniya, dan Panji yang menggoda Bu Lisnur. Dipelajaran sejarah, mari kita hitung berapa murid yang belum terlelap saat Bu Aisyah menceritakan sejarah mesir kuno-nya. Kalau saat biologi, hitung saja berapa kali kita menghadapi ulangan yang tidak open book. Hanya segelintir murid dikelas yang mengerti apa yang dijelaskan Bu Khadijah dipelajaran ekonomi. Apalagi jangan pernah berharap ada yang mengerti dengan jelas saat Bu Mutingatun menjelaskan tentang kimia.

Kelasku ini~sepuluh empat, sempat dinobatkan menjadi kelas unggulan urutan kedua disemester pertama. Rata-rata rapot yang hampir seragam bagus dan beberapa lomba kita juarai membuat kita terlihat hebat dimata orang yang melihat. Namun tidak disemester kedua. Banyak sekali guru yang protes karena kelas ini telah berubah. Kini prestasi kita turun cukup drastis, kita lebih berisik dikelas, dan keluhan lainnya yang sulit aku ungkap.

Beberapa kelas menyatakan keirian nya kepada kelasku ini, karena kelasku ini terlihat sangat kompak dan saling membantu satu sama lain. Kami mencoba selalu menjadi yang terbaik untuk teman teman terbaik. Beberapa masalah berhasil kami selesaikan. Mulai dari penghianatan, kesalah pahaman, dan perbedaan pendapat. Kami terlalu bahagia dapat saling mengenal maka terlalu sulit untuk kami bermusuhan dalam waktu yang lama.

Yang menguasai topik pemikiranku akhir akhir ini adalah ’kami-akan-berpisah’. 14 Juni 2010 akan terlaksana UAS yang menandakan sebentar lagi kami tidak akan satu kelas lagi. Lalu siapa yang akan aku lihat membersihkan kelas dipagi hari? Siapa yang dipagi hari akan berlari membuang kotoran isi perutnya? Siapa yang akan bercerita dipagi hari pula? Aku terlalu sedih untuk menambah pertanyaan.

Sudah pasti aku akan rindukan suasana kelas yang sulit ditebak namun menyenangkan sekaligus menenangkan itu. Disana aku temukan bahagia, sedih, pelajaran, persahabatan, percintaan, dan lainnya. Mengapa perpisahan harus hadir disaat nyaman hinggap didiri Tuhan...

Mau tidak mau, suka tidak suka, sulit ataupun mudah, ini semua harus kita lewati. Inilah jalan hidup, dimana ada pertemuan maka ada perpisahan. Dan percayalah bahwa ini bukanlah akhir, namun ini adalah awal dari segalanya yang indah. Sahabat tidak akan pergi, akan tetap disini~dihati.

Terimakasih teman atas setahun indah penuh arti ini, kalian berharga. Maaf aku miliki sejuta dosa, maafkanlah. Biarkan ini menjadi kenangan penuh makna dan pelajaran yang akan terus dikenang. Semoga kalian sukses dimasa depan, with big love kiss and hug for you xoxo~

No comments:

Post a Comment